Pemkab Jadikan Wakatobi sebagai Surga Bawah Laut


Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sudjito mengungkapkan visi Pemkab untuk menjadikan Wakatobi sebagai surga di tengah segitiga karang dunia. Hal ini sejalan dengan predikat cagar biosfer yang dianugerahkan kepada Taman Nasional (TN) Wakatobi April 2012 lalu.

"Surga itu kita maknai sebagai kebahagian yang dimiliki oleh masyarakat Wakatobi dengan modal dasar yang dimiliki dan berdampak pada kesejahteraan," ujar Sudjito di Pisa Café Mahakam, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2014).

Untuk mencapai visi tersebut, Pemkab Wakatobi didukung oleh Balai Taman Nasional (BTN), The Nature Conservacy (TNC), dan WWF Indonesia berupaya melakukan berbagai kegiatan rutin. Kegiatan tersebut berupa pelibatan masyarakat kampung dan tokoh adat dalam penyuluhan, pelatihan dan penguatan kearifan lokal, monitoring biota laut, dan penguatan kelembagaan di berbagai tingkat. “Tidak mungkin juga rakyat kami hanya akan menjadi penonton, juga harus aktif berperan,” ungkap Sudjito.

Predikat cagar biosfer menuntut TN Wakatobi untuk menyinergikan konservasi keanekaragaman hayati, kemajuan sosial ekonomi, dan pelestarian budaya untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

“Apabila kelestarian cagar biosfer tidak bisa dipertahankan, UNESCO bisa menarik kembali predikat cagar biosfer. Kalau kita mempertahankan kelestarian, otomatis sudah mempertahankan status cagar biosfer. Saya rasa masyarakat lokal juga tidak ingin lingkungannya rusak, karena kehidupan mereka ada di situ. Kalau rusak, mereka akan susah," ujar AG Martana, Kepala BTN Wakatobi.

Menurut data yang dipaparkan Sudjito, jumlah kunjungan wisatawan ke Wakatobi telah meningkat dari 6.400 wisatawan pada 2008 menjadi 11.650 wisatawan pada 2013. Selain itu, pertumbuhan ekonomi meningkat hingga 8,10 persen. Artinya, kemajuan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat Wakatobi berjalan seimbang.
KOMPAS.com/Indra AkuntonoDua buah kapal di Pulau Hoga, Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (12/10/2012).
Kemajuan tersebut membuat masyarakat Wakatobi sepakat dengan adanya kerja sama antara berbagai pihak untuk mencapai visi Pemerintah Kabupaten Wakatobi.

“Kami sepakat bahwa kita harus bekerja sama dengan TNC, Pemda, Taman Nasional dan masyarakat adat itu sendiri dalam rangka memelihara dan melestarikan alam. Di masyarakat adat, hutan dan laut menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga dan diselamatkan," ungkap Usman, Tokoh Adat Wangi-wangi, salah satu pulau besar di Kabupaten Wakatobi.

Sementara bagi mereka yang melanggar upaya konservasi, sanksi sosial lah yang menjadi ganjarannya. “Masyarakat Wakatobi lebih takut dengan hukuman sosial dibanding ancaman penjara. Dengan hukuman sosial, bisa saja dikucilkan," ujar Sudjito.

Post a Comment

0 Comments